Jumat, 07 April 2017

Warisan Kata Diponegoro


Lelah menarikan pena, setelah beberapa hari kasusnya tak kunjung usai. Hanya melihat pusaran sisa kopi di meja tulis. Menunggu apa drama selanjutnya. Terkadang akupun berfikir. Siapa sebenarnya yang dapat menjalankan konstitusi. Hanya dibenak. Mengambil rebahan sebentar saja, sebelum nanti melanjutkan kata demi kata lukisan aksara. Kiranya ada yang ingin membaca walau hanya sebuah blog tua, yang spasi terbitnya mungkin bulanan atau tahun. Tapi setidaknya sebagai warga negara yang cinta bangsanya apalah kata jika hanya mencaci. Kita inginkan kritik dengan dasar solutif. Kalau proklamtor tidak bisa mengkritik yang ingin dilinggis dan disetrika mungkin masih was-was dikatakan sebagai bangsa yang merdeka.

Dibubuh dengan pesan menggugah “Perjuanganku sangat mudah karena hanya melwan penjajah, tetapi perjuanganmu akan susah karena melawan bangsamu sendiri”. Ini beberapa kata-kata yang aku simpan sementara semoga ada ilham  sastra dan kata dalam melajukan bait aksara. Rehat mengambil nafas, namun puncak kelelahan tak bisa menawar mata. Setelah menumpu begitu banyak waktu dan menghargainya dengan menelaah buku. Berhenti aku pada rajutan cerita macan nusantara, pelibas kompeni belanda. Bendara Pangeran Harya Dipanegara.

Dalam diam mendengar cerita alam akal. “Kita membutuhkan seperti dirinya di negeri ini. Lebih baik seperti dirinya, agar tak adalagi monopoli borjuasi dengan kolonisasi yang terbungkus dalam sebuah modernisasi. Berapa lama lagi jeritan hati rakyat yang peduli untuk mereka dalam lakon kampanye yang sebenarnya pura-pura memberi hati”. Sepertinya mata tak bisa berkompromi lagi. Aku rebahkan badan dikasur tua, dua jengkal samping meja orkestra tulisan. Perlahan mulai menutup sepasang anugerah lensa dari Allah. Sembari memiringkan badan ke arah kanan dengan maksud mengikut sunnah.

Mulailah mata terpejam, dimulai dengan doa-doa ruqyah. Sampai akan tiba dialam setengah ruh melayang. Berharap bertemu sang Nabiullah perkasa sallallahu alaihi wassalam. Kiranya mngkin diri ini masih terbesit kegelapan dan kemunafikan. Sambil menunggu pulas. “Apalah daya manusia seperti saya, jangankan bermimpi bertemu nabi. Waliullah saja mungkin enggan melihat paras ini”. Nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan. Masih bisa pulas, sambil menunggu esok hari boleh jadi selesailah semua naskah untuk sedikit ikat melapas lapar dan dahaga.

Mulailah lelap sangat dalam. “50.000 Gulden sudah cukup menghargai orang itu”. “Ini tanah orang-orang lemah”. “Kita tahu, walaupun banyak raja, tetapi tak berani jika kita sodorkan dana gold atau silver untuknya. “Walau masih ada juga raja yang adil tak ingin disuap”. “Ini yang harus kita singkirkan, termasuk Diponegoro itu”. Samar-samar kulihat, rambutnya agak kuning kecoklatan. Kumis tebal, sepertinya pernah kulihat orang itu. Tapi entahlah, saya hanya mersasa aneh dengan sekeliling.

Sekitar tampak cukup asri, masih kupandang rambut kuning kecoklatan. Dahaga tak terasa, lapar pun juga. Sampai menikmati perjalanan terdengar gelegar pekikan “AllahuAkbar”. Padepokan sederhana cukup besar menampung banyak santri. Indah dalam pandangan masih ada yang seperti ini. Ingin rasa turut ambil bagian duduk mendengar siraman penguat iman.ū “Assalamu alaikum, boleh kiranya saya ikut menduddukan badan disini”. Tak satupun ada jawaban. Mencoba berjalan mengitari padepokan, tak satupun santri menoleh melihat gerakku. Entahlah apa yang sedang terjadi.

Sayup angin membawaku menuju luar padepokan. Sampai malam tiba angin menambah kecepatan. Menggiring aku menuju kerumunan ribuan serdadu. Bercampur mereka, kulit dan sawo matang jadi satu dalam kumpulan serdadu itu. Dalam hati bertanya lagi, apakah ini sebuah persatuan. Tangan ku arahkan ke kelopak mata, menggosok kiri dan kanan, dari kejauhan tampak agak samar. Sepertiny saya mengenali  orang yang ada ditengah pasukan itu. Ternyata, itu sipirang kumis tebal yang kemarin saya lihat. Memori mulai membaca. Memberikan gambaran. Apa.... bukan kah itu Jendral De Vock Los. Ini bukan persatuan, melainkan pemaksaan bersektu, atau mungkin mereka yang bergabung hanya ingin mendapatkan keuntungan perut. Sekarang bukan saatnya untuk banyak bertanya. Tak ada juga yang akan menjawab tanyaku kecuali Allah subhanahu wata’ala. Lagi pula kondisinya sama saat di Padepokan. Saat ini yang bisa aku lakukan hanya mengamati melihat yang sedang terjadi. Ku simpan dalam-dalam tanyaku. Dimana diri ini sekarang. Biar nanti ada celah waktu yang bisa aku cari tahu kondisi ini.

Sambil menyimpan banyak pertanyaan. Saya berlari menuju padepokan. Melihat Jendral De Vocks Los, seketika mengingatkan ku pada orang yang mahsyur keberaniannya dan taat orangnya pada Allah Subhanahu wata’ala. Pangeran Diponegoro. Bagaiman bisa aku belum melihat Kiyai Pangeran Diponegoro. Aku pacu seribu langkah. Berlari mencari dimana padepokan tadi. Tidak ada perasaan lelah dalam berlari. Tetapi bulum juga aku temukan tempat itu. Dimana, dimana padepokan Kiyai Pangeran Diponegoro.

Aku rebahkan saja diri dan bertasbih, sambil mengingat kembali jalan menuju tempat itu. Tiba-tiba sayup angin datang menghampiri lagi. Merasa dingin dengan hempasannya. Ku bangkitkan raga menoleh kebelakang. “Ini padepokannya, kenapa bisa”. Aku tak berpikir ini karena angin. “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah”. Dalam padepokan para santri membentuk halaqah besar. Aku mendengar appa yang ia sampaikan. “Dengan sistem benteng yang dilaksanakan oleh belanda, pasukan Kiyai Diponegoro semakin terjepit”.

“Kiyai Diponegoro juga menyampaikan bahwa Kiyai Maja akan memimpin jihad ini”. “Seperti yang dikatakan Kiyai Diponegoro, jihad ini adalah perang sabil, perang melawan kaum kufar”. Hanya termangung melihat para santri. Jika Kiyai Maja akan memimpin jihad, maka artinya ?. Hanya menjadi sebuah pertanyaan di benakku. Semoga tidak terjadi apa-apa dgan Kiyai Diponegoro. Aku mengkwatirkan Kiyai Diponegoro, sama seperti mengkhawatirkan keadaan ku saat ini. Bagaimana tidak, ini soal harkat martabat bangsa. Kita bukan orang lemah. Bukan pula penghianat negeri.

Melanjutkan kembali kisah perang sabili jihad suci lillahi. Ditangkapnya Kiyai Maja, Pangeran Mangkubumi dan Sentot Alibasya. Membawa penglihatanku melihat pernyerahan diri Kiyai Pangeran Diponegoro oleh Kompeni De Voks Los. Tetapi tidak sekedar menyerahkan diri. Ada jiwa berani yang tidak bisa ditawar sekalipun sanggat tinggi. Ucapan menggugah “Lepaskan laskarku”. Sudah menjadi satu asasi perjuangan lillahi. Pemimpin pelayan umatnya. Itu yang kupandang dari Kiyai Diponegoro.

Baru kembli aku menyadari, apa sebenarnya yang terjadi. Sesaat kemudian  mencul dihadapan ku, kira-kira hanya berjarak tiga jengkal. Dengan pundak bergetar, dengan seksama kudengar. “Hidup dan mati ada dalam genggaman ilahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid dijalan tuhan”.

Dengan suara menggelegar sungguh merdu terdengar pesan berwaris dari kiyai diponegoro. Ruangan terasa sangat panas, membangunkanku untuk menengok sisa kopiku, yang ada sisa ampas dan bercaknya dimeja. Ada keheranan yang terbuka dalam pikiran. Mengapa orang sepertiku dapat mimpi yang sebegitu indahnya. Sampai masih terasab dalam kalbu. Mungkin ini pertanda sebuah rezeki. Aku bergerak menuju tampungan kehidupan. Bukan hanya melangkah untuk membasuh wajah. Mungkin ini kenikmatan seperdua malam bagiku, untuk bersujud padanya.


Setelah kusujudkan diri pada ilahi. Ku hadapi lagi, kertas yang berisikan tiga paragraf tulisan. Dari mimpi itu aku hanya ingin menyarakan. Tak kutemukan sekarang pemimpin yang segarang kiyak diponegoro. Pemimpin yang tak rela sejengkalpun tanahnya dirampas. Pemimpin yang megorbankan hayat untuk rakyat. Sekarang yang aku pandang pemimpin yang garang kepada rakyat. Sekarang kupandang pemimpin yang santun manis wajahnya pada asing maupun aseng.Tapi fikir masih percaya akan datang masa. Diponegoro muda akan bermunculan, ada aksi yang sama dan pantang menjual bangsa. Aku masih mengingat monas jadi saksi akan itu muncul kembali. [HYP]

Minggu, 11 Desember 2016

Heterogen, Ghazwul Fikri, dan pemanfaatan istilah anti-Kebinekaan dan hak asasi


Keheterogenan adalah suatu kewajaran dan suatu ketetapan. ketetapan atas hal tersebut bukan berarti diam. bergerak menyampaikan dalam aktualisasi dakwah juga bukan dengan cara yang tidak dibenarkan syara'. seperti halnya merubah keadaan diri dalam hal ini yang dapat dijangkau dan sesuai dengan tuntunan syara'.

Kewajaran dalam menanggapi keheterogenan bukan dengan melepaskan tolak ukur. tolak ukur sebagia standarisasi dalam pemberian nilai atas perbuatan, jika dikembalikan pada pandangan heterogen tentu setiap agama, suku, dan ras akan memiliki pandangan yang berbeda dalam menyajikan sudut pandangnya.

Dalam perspektif pemerintah, sebagai warga negara tentu barang wajib mengikuti standarisasi hukum yang telah menjadi keputusan yang telah dianggap final. tetapi sebagi seorang Abdullah juga ada perintah yang maha wajib yang finalnya mencakup dunia wal akhirat. karena disamping sebagai warga negara kita juga sebagai abdullah.

Pandangan liberalis dengan ungkapan mayoritas abdullah di negeri ini tidak berhalu dari pada konstitusi. seolah ada penggambaran pengkambing hitaman pada kepercayaan mayoritas abdullah. disini kita mengamati bahwa keholistikan kepercayaan mayoritas abdullah mampu menyingkiran standarisasi yang bersifat spekulasi yang hadirnya boleh jadi diri dikte korporasi dengan maksud misionarisasi.

Untuk mengakhiri kesempuraan ajaran dan melabeli istilah radikalisasi. hak asasi dan ajaran konstitusi dijadikan sebagai alat untuk mencapai dua poin tersebut. respon atas pemberhentian acara keagamaan juga melabeli muslim anti-kebinekaan dan tidak menghormati hak asasi. tetapi, ketika fakta bahwa muslim sebagai korban maka pelabelan pelaku bukan pada anti kebinekaan dan hak asasi melainkan keluar kata hanya terjadi kesalah pahaman. lantas apa fungsi dari pada standarisasi konstitusi sebagai value dalam bernegara ?

Teringat dengan ayat yang intinya menyatakan "mereka tidak akan ridho sampai kalian masuk pada agama mereka". mengaitkan dengan pembubaran suatu acara keagaman, boleh jadi ada pendangkalan akidah umat sehingga direspon dengan cara pembubaran. ayat lain juga mengingatkan "bagimu agamamu dan bagiku agamaku", sudah silahkan saja umat bergama lain melaksanakan pokok ajaran dan ibadahnya. tetapi kembali ke-poin awal dengan tidak bermaksu mengadakan pendangkalan akidah umat.

Mengetahui bahwa aksi pembubaran tidak lebih banyak dibandingkan pembiaran ibadah umat beragama lain. namun poros kajiannya, pumbubaran yang jumlah kasusnya sangat sedikit ini memang awalnya selalu diawali dengan pendangkalan akidah, jika tidak ada unsur itu maka silahkan saja.
Kehidupan beragama juga tidak bisa dilepaskan dari faktor ghazwul fikri. namun yang sangat disayangkan adalah memanfaatkan konstitusi, istilah anti-kebinekaan dan pelanggran hak asasi untuk mendapat tujuan mereka. ini memberikan penilain ketidak sempurnaan ajaran mereka, memakai konstitusi untuk menghancurkan keholistikan ajaran islam.

Memanfaatkan 3 hal tersebut, seolah mereka menyatakan "demi kerukunan hidup beragama, umat islam mulai sekarang dilarang menyatakan pokok keyakinan dan agamanya". akhir tulisan saya mengutip pernyataan Babe Ridwan Saidi, "Ciri-ciri pemimpin yang bahlul adalah apabila mereka mengeluarkan keputusan niscayalah keputusan itu tidak boleh dikoreksi, dan selain itu mereka menggunakan cara-cara yang tidak ilmiah untuk membela keputusannya, sementara keputusannya itu sendiri memang sudah tidak ilmiah. []

Trump : Melanjutkan Hegemoni Basi



Idealnya sebuah kepemimpinan yang baru mempunyai cara pandang sendiri dalam merumuskan kebijakan. Amerika serikat dengan sistem presidensial demokrasi liberal, memberikan batasan pemimpin Negara hanya dua periode. Masa jabatan yang singkat untuk menahkodahi, memberikan nada kemungkinan seorang pemimpin baru melirik atau bahkan menjalankan rencana strategis pemerintahan lama.

270 to win. Oleh voters Trum menembus 290.

Muncul keterkejutan publik Amerika Serikat melihat angka itu. Pasalnya, kandidat dengan setumpuk pernyataan kontroversial mampu menembusnya. Sekarang masyarakat AS menunggu kebijakan baru dari trump. Menyikapi kebijakan apa dan statement kontroversial akan berimplikasi pada kajian tentang gaya dan model kepemimpinan. Hal tersebut mendapatkan banyak pengulangan baik media internasional dan nasional. Sehingga muncul kesimpulan secara personal bahwa trump akan mengimplementasikan apa yang keluar dari lisannya.

Bukan soal yang mudah untuk trump melaksanakan berbagi kebijakan nantinya. Mengantongi angka 290 bukan kemenangan yang sesungguhnya, trump masih harus berhadapan dengan 228. Apalagi memanasnya demonstrasi anti trump membuatnya tidak hanya berpikir mendesain kebijakan, melanjutkan yang lama, tetapi juga memperbaiki kondisi internal AS. Hal ini mengharuskannya mengambil tata eksternal dari pemimpin sebelumnya karena tugas trump selain menjaga internal AS juga mempertahankan kedigdayaan.

Antara ego partai dan menjaga kedigdayaan

Trump seperti dituntut menjadi hero ditengah rusaknya kondisi sosial, dan krisis ekonomi. Jika dulu obama mengimplimentasikan kebijakan pemerintahan sebelumnya. Memasukan variabel gaya dan model kepemimpinan trump maka ia harus merelakan egoisme indvidu dan partai untuk mengambil jalan seperti obama. Untuk mencapai itu semua, trump harus melanjutkan serangkaian rekonsiliasi dengan negara tujuan untuk tetap menjaga kata superpower untuk negaranya.

Trump

Salah satu tujuan neo-konservatif adalah menebar nilai demokrasi diseluruh dunia. Namun kampanye demokari AS dilakukan secara bar-bar, mengabaikan human right, dan menindas beberapa negara dengan manipulasi perang melawan terorisme. Serangkaian nilai tersebut dalam implimentasi secara gaya kepemimpinan obama, disampaikan dengan gaya politis namun tetap bar-bar dalam penerapan. Sebaliknya, trum dengan pernyataan sarkas memberikan penilaian akan menjalanlan tujuan neo-konservatif bar-bar dengan lebih bar-bar lagi.


Dalam membangun arsitektur politikya AS selalu menjalankan strategi garis etno-sektarian. Dari bangunan politik tersebut dimanfaatkan oleh para oportunis untuk melaksanakan kepentingan faksi mereka sendiri. Hasilnya berujung pada devide at impera. Terpilihnya trump dengan sejumlah pernyataan kontroversialnya memberikan suatu gambaran politik, bahwa AS ‘tidak sembunyi’ lagi dalam kata-kata untuk memukul kekuatan baru yang akan muncul sebagai the new adidaya.[]

Setelah 411, Perbedaan pendapat, dan Petunjuk Allah SWT


Dalam kasus lain kita masih berhadapan dengan tantangan free market, free trade, free enter price, development dan human right. Menyimpulkan pernyataan Panglima TNI dalam acara ILC tadi walaupun sekilas terlihat premature sepertinya beliau ingin menyampaikan selangkah lagi Indonesia akan menjadi Negara besar dengan berbagai prestasinya, walaupun dengan tantangan nasional dan internasional. Penyampaian beliau menjadi begitu gagah ketika muncul kalimat ini “Umat Muslim adalah benteng terakhir pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Sentuhan kalimatnya kemungkinan dapat menyentuh kesimpulan yang menyatakan, berbagai persoalan yang begitu banyak jawaban dan solusinya ada pada Islam dan umat muslim.

Aksi 4 November, umat muslim mencoba menunjukkan benteng kekuatannya dalam mengawal hukum. Terlepas dari pro dan kontra bahkan dari internal kaum muslimin itu sendiri, tetapi aksi tersebut legal secara konstittusional berdasarkan payung UUD 45 & UU No. 9 Tahun 1998. Dalam acara ILC tadi juga menunjukkan perbedaan. Ketika perbedaan terjadi dikalangan awam pemandanganya menjadi biasa, tetapi apa yang yang diperlihatkan ILC malam ini adalah pandangan yang muncul dari alim ulama mengenai ucapan yang diduga.

Petunjuk Allah SWT

Depan layar kaca, sebelah kanan menyatakan mengetahui benang merah isi kitab suci dan perihal ayat yang dikutip oleh yang diduga masih perlu pengkajian. Sebelah kiri telah melakukan serangkaian kajian dan penelitian sehingga yang diduga layak dinyatakan menghina Al-Qur’an dan Ulama. Tayangan tentunya akan menimbul respond bagi khalayak mengenai perbedaan pandangan tadi. Melihat jumlah aksi seantero Indonesia, masyarakat tidak bingung lagi karena telah dibuktikan dengan jumlah massa aksi yang sangat luar biasa banyaknya se-indonesia.

Banyaknya aksi 411 dibandingan isu lain memberikan penilaian bahwa umat muslim sudah sangat cerdas mengikuti ulama mana yang harus diikuti dan meninggalkan ulama mana yang harus ditinggalkan. Juga memberikan pernyataan bahwa umat muslim lebih marah jika aqidahnya diganggu ketimbang perutnya diganggu. Sebaliknya ada kelompok yang marah jika perutnya diganggu ketimbang aqidahnya diganggu.

Umat muslim, sekali lagi Allah SWT memberikan petunjuknya lewat tayangan ILC malam ini tentang siapa yang harus diikuti dan siapa yang harus ditinggalkan. Ibn Abi Hatim menuturkan dari Imam Sufyan ats-Tsauri, dari Abu Hayan at-Taymi, bahwa ulama ini juga ada tiga golongan. “Pertama ; Orang yang takut kepada Allah dan mengetahui hukum-hukumnya, itulah orang yang alim sempurna. Kedua ; Orang yang takut kepada Allah tetapi tidak mengetahui hukum-hukumnya. Ketiga ; Orang yang mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi tidak takut kepdanya, dialah orang alim yang jahat (al – a’lim al – fajir / ulama su’)”. (Sumber : hizbut-tahrir.or.id)

Hujjatu-Islam Imam al-Ghazali mengingatkan, “Hati-hati tipu daya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasul Sallallahu alaihi wasslam ditanya tentang sejahat-jahat makhluk, Beliau menjawab “Ya Allah berilah ampunan”. Beliau mengatakan sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “Mereka adalah ulama su’ “”. 
(Sumber : nugarislurus.com)