Minggu, 11 Desember 2016

Trump : Melanjutkan Hegemoni Basi



Idealnya sebuah kepemimpinan yang baru mempunyai cara pandang sendiri dalam merumuskan kebijakan. Amerika serikat dengan sistem presidensial demokrasi liberal, memberikan batasan pemimpin Negara hanya dua periode. Masa jabatan yang singkat untuk menahkodahi, memberikan nada kemungkinan seorang pemimpin baru melirik atau bahkan menjalankan rencana strategis pemerintahan lama.

270 to win. Oleh voters Trum menembus 290.

Muncul keterkejutan publik Amerika Serikat melihat angka itu. Pasalnya, kandidat dengan setumpuk pernyataan kontroversial mampu menembusnya. Sekarang masyarakat AS menunggu kebijakan baru dari trump. Menyikapi kebijakan apa dan statement kontroversial akan berimplikasi pada kajian tentang gaya dan model kepemimpinan. Hal tersebut mendapatkan banyak pengulangan baik media internasional dan nasional. Sehingga muncul kesimpulan secara personal bahwa trump akan mengimplementasikan apa yang keluar dari lisannya.

Bukan soal yang mudah untuk trump melaksanakan berbagi kebijakan nantinya. Mengantongi angka 290 bukan kemenangan yang sesungguhnya, trump masih harus berhadapan dengan 228. Apalagi memanasnya demonstrasi anti trump membuatnya tidak hanya berpikir mendesain kebijakan, melanjutkan yang lama, tetapi juga memperbaiki kondisi internal AS. Hal ini mengharuskannya mengambil tata eksternal dari pemimpin sebelumnya karena tugas trump selain menjaga internal AS juga mempertahankan kedigdayaan.

Antara ego partai dan menjaga kedigdayaan

Trump seperti dituntut menjadi hero ditengah rusaknya kondisi sosial, dan krisis ekonomi. Jika dulu obama mengimplimentasikan kebijakan pemerintahan sebelumnya. Memasukan variabel gaya dan model kepemimpinan trump maka ia harus merelakan egoisme indvidu dan partai untuk mengambil jalan seperti obama. Untuk mencapai itu semua, trump harus melanjutkan serangkaian rekonsiliasi dengan negara tujuan untuk tetap menjaga kata superpower untuk negaranya.

Trump

Salah satu tujuan neo-konservatif adalah menebar nilai demokrasi diseluruh dunia. Namun kampanye demokari AS dilakukan secara bar-bar, mengabaikan human right, dan menindas beberapa negara dengan manipulasi perang melawan terorisme. Serangkaian nilai tersebut dalam implimentasi secara gaya kepemimpinan obama, disampaikan dengan gaya politis namun tetap bar-bar dalam penerapan. Sebaliknya, trum dengan pernyataan sarkas memberikan penilaian akan menjalanlan tujuan neo-konservatif bar-bar dengan lebih bar-bar lagi.


Dalam membangun arsitektur politikya AS selalu menjalankan strategi garis etno-sektarian. Dari bangunan politik tersebut dimanfaatkan oleh para oportunis untuk melaksanakan kepentingan faksi mereka sendiri. Hasilnya berujung pada devide at impera. Terpilihnya trump dengan sejumlah pernyataan kontroversialnya memberikan suatu gambaran politik, bahwa AS ‘tidak sembunyi’ lagi dalam kata-kata untuk memukul kekuatan baru yang akan muncul sebagai the new adidaya.[]

0 komentar:

Posting Komentar