Minggu, 14 Desember 2014

Makassar, [15.12.2014] : 01.06 WITA



Tidak Habis pikir dengan bejibun angka yang terpampang, menyatakan Negara dalam indikator ekonominya sedang sejahterah. 

Logika mana yang bisa menerima, kebijakan yang ada untuk rakyat. Namun mereka serapah rakyat tak sejahterah.

Dasar apa menyatakan Negara Sudah mengalami on the right track. Namun yang tertuang di PDB adalah dominasi angka-angka para pencuri. Kini tinggallah rakyat yang tersakiti.

Kebohongan apalagi yang mereka sampaikan, mengatakan pembangunan tetapi itu jalan menuju penikaman.

semua sudah sedu tergambar, Negara hanya kaya dalam bentuk statistika namun miskin di Realita.

*Yang terpajang sekarang, adalah sandiwara dalam sebuah teater bernama Indonesia

Jumat, 12 Desember 2014

PEMILU DEMOKRASI SARANA KORUPSI! : ISLAM SOLUSI!



Ajang Pemilu, hampir sampai pada titik pelaksanaanya yakni di tahun 2014. Event ‘tusuk-tusuk’ yang sebentar lagi akan tiba hari, merupakan ‘pertarungan’ baik legislatif maupun capres. Sebelum tiba hari pencoblosan, para kandidat legislatif, maupun capres saling ‘beradu’ untuk mendapatkan simpati dan hati masyarakat indonesia. Cara menggait, dan mendapatkan simpati masyarakat pun di tempuh dengan berbagai cara. Ada dengan cara yang sama, memasang baliho di ruas-ruas jalan, dan membagikan stiker kepada khalayak umum. Dan yang berbeda, Sampai dengan cara yang terbilang gila dan tidak waras, yakni membagi-bagikan bra kepada khalayak umum.

Semua itu dilakukan untuk mendapatkan simpati masyarakat. Dan yang terpenting katanya, ketika mendapatkan simpati dan terpilih akan memperjuangkan hak rakyat, betulkah?. Pra pencoblosan, yang dilakukan baik legislatif maupun capres, banyak mengisi dengan kegiatan sosial seperti kunjungan dan bagi-bagi sembako di perumahan kumuh, dan tempat-tempat lain yang menjadi objek kampanyenya.
Kampanye yang dilakukan baik dalam bentuk iklan di media elektronik, cetak, serta turun langsung mengkampanyekan diri tentunya memerlukan dana yang bejibun. Sontak, bukan lagi rahasia umum. Bahwa wajah yang ditampilkan adalah para calon yang tebal kantong (baca: berduit). Adapun calon legislatif yang terbilang tipis kantong, tetapi berani mengkampanyekan diri, sudah pasti ada yang mendanai,  Melihat begitu sengitnya ‘pertarungan’ untuk mendapatkan keuntungan. Berbeda halnya dengan pilpres. Wajah calon presiden semua adalah para elit berduit. Walau berduit, tentunya pasti mencuit, sekalagi lagi karena mahalnya demokrasi yang rusak ini.

Demokrasi, Sistem Rusak!

Demikian rusaknya demokrasi, bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari segi sistem, demokrasi merupakan sistem atau pemikiran yang berlandaskan kebebasan, memisahkan antara agama dan Negara, serta tidak memiliki standarisasi atau tolak ukur yang jelas. Demikian tidak jelas, karena di dalam demokrasi yang menjadi acuan tertinggi adalah rakyat, suara rakyat yang terbanyak. Rakyatlah yang menetapkan hukum, atau dengan kata lain rakyatlah yang menentukan baik buruknya sesuatu. Karena berlandaskan kebebasan, memisahkan antara agama dan Negara, serta tidak memiliki standarisasi atau tolak ukur yang jelas dan yang di jadikan acuan, adalah suara terbanyak rakyat. Sehingga jangan heran, di Negara indonesia, sesuatu yang jelas di haramkan Allah SWT seperti zina, khamr, dan riba, itu menjadi legal, karena dilegalkan oleh mayoritas rakyat. Hal ini wakil rakyat yang melegislasi keharaman tersebut.  Demikian pula dalam demokrasi, isi kepala menjadi tiak penting. Yang terpenting adalah suara terbanyak. Itupun suara yang banyak tidak betul-betul mewakili suara rakyat yang mayoritas Islam di Indonesia.

Kedua, dari aspek keterwakilan. Hal ini wakil rakyat atau DPR yang mewakili seruan atau keresahan rakyat atas kinerja pemerintah. Tengok kasus di tahun 2012, perihal kisruh pemutusan subsidi BBM. 80,6% Mayoritas rakyat diluar parlemen menolak pencabutan subsidi BBM,sisanya 20,4 % Masyarakat termasuk DPR sepakat subsidi BBM dicabut. Jika kembali pada poin demokrasi, yakni suara terbanyak, maka sudah pasti yang menang adalah 80,6%. Tetapi demokrasi hanya manis di teori. Wajah aslinya adalah mengikuti kemauan minoriti di negeri ini (baca: para kapitalis). Dari 1%, oleh 1%, dan untuk 1%,itulah sejatnya demokrasi mementingkan para elit kapitalis.

Ketiga, proses pencarian pemimpin dalam demokrasi terbilng mahal!, hanya orang-orang high clas, berduit yang bisa terjun dalam dunia politik, kalau pun tidak berduit nantinya akan ada menanggulangi. Mahalnya proses pemilihan demokrasi ini menjadikan Indonesia laten korupsi. Dan dalam pemilihan legislatif di tahun 2014 ini, banyak juga para calon yang koplak, artis majalah porno, bahkan banci pun ikut nyaleg. Semuanya karena mereka berduit. Walau otak kosong, tetapi berduit sah untuk terjun dalam politik busuk demokrasi. Lagi dan lagi sistem ini betul Kacau!

Mahalnya Sistem Rusak Demokrasi, Menjadikan Politisi Mental Korupsi

Dari pernyataan mantan Sekjen DPP PDIP Pramono Anung, beliau menyatakan Biaya yang dikeluarkan caleg untuk menjadi anggota DPR, Kisarannya 2-6 M bahkan ada yang mencapai 22 M untuk terpilih. Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy memandang, pernyataan yang di sampaikan oleh Pramono Anung bukan lah suatu yang baru. Menurut Noorsy, itu benar adanya. Akibat faktor biaya tinggi, maka kualitas calon jadi dinomor sekiankan. Tidak jelasnya rekruitmen. Sehingga tidak heran kini, ada tukang tambal ban bisa jadi anggota DPRD, itu pun tidak lewat dari bantuan para pemilik modal.

“itu yang saya sebut: masuk sampah keluar juga sampah. Jadi, begitu yang pram bilang bahwa orang-orang yang masuk DPR hanya cari uang, saya nggak kaget. Meraka cari uang di DPR karena untuk mengembalikan investasi yang telah mereka keluarkan, ungkap Noorsy. Menurutnya, dampak dari anggota DPR yang motivasinya cari nafkah adalah keterwakilan palsu dan akan menimbulkan kewibawaan palsu. Sehingga laten terjadi korupsi di tingkat legislatif. Selain bahayan laten korupsi, yang membahayakannya lagi, yakni Para Anggota DPR yang di-stir oleh kepentingan para pemilik modal. Untuk menyetir para anggota DPR ini, dilakukan pada saat kampanye, yakni membiayai kampanyenya para Caleg. Hasilnya, ketika naik menjadi Anggota DPR, banyak UU yang dibuat selalu mengarah kepada kepentingan kapitalis.

Dari pernyataan Sekretaris Kabinet, Dipo Alam. Menyatakan, Persentase korupsi Oknum Parpol. Golkar 64 Politikus/ 36%, PDIP 32 Politikus/ 18%, Demokrat 20 Politikus/ 11%, PPP 17 Politikus/ 9,65%, PKB 9 Politikus/ 5%, PAN 7 Politikus/ 3,9%, PKS 4 Politikus/ 2,27%, dan PBB 2 Politikus/ 1,14%. Dan masih hangat sampai ini adalah kasusu century, dan hambalang yang menjerat beberapa oknum legislative maupun eksekutif.

Beda legislatif eksekutif, beda pula Capres. Dari pernyataan Koordinator  Balitbang DPP Partai Golkar Indra J Piliang mengatakan, capres memutuhkan dana Rp 3 trilyun untuk kebutuhan kampanyenya. Adapula pihak yang menyebutkan, bahwa kebutuhan kampanye pilpres lebih dari itu. Donny Tjahya Rimbawan seorang pengamat politik Universitas Indonesia mempunyai pandangan lain soal biaya capres, menurut tjahya, “Seorang capres setidaknya butuh Rp 7 Trilyun. 

Banyaknya biaya untuk menjadi capres, setidaknya kita bisa memberikan penilaian. Kalau si capres sendiri yang mendanai, apakah dia rela uangnya tidak kembali? Kalau berasal dari para pemilik modal, apakah mereka tulus memberikan tanpa mengharapkan kompensasi yang lebih besar? Jawabannya pasti tidak! Biaya yang telah dikeluarkan dianggap sebagai modal yang harus dikembalikan dan mendatangkan keuntungan, baik secara legal maupun illegal, Ujar Ketua DPP HTI, Rokhmat S Labib, ketika di wawancarai Media Umat. Beliau menambahkan, APBN yang seharusnya digunakan untuk menyejahterahkan rakyat lebih banyak masuk ke kantong penguasa. Berbagai proyek dibuat, bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi hanya untuk membalas budi kepada pemilik modal yang menyumbangnya. Sementara rakyat semakin berat ketika sebagaian besar pendapatan Negara berasal dari pajak. Sebaliknya untuk rakyat justru dikurangi.

Pengamat ekonomi publik Ichsanuddin Noorsy melihat, mahalnya ongkos capres bisa di hitung dari 524 kabupaten dan kota. 60 persennya ada di pulau jawa, itu biaya yang luar biasa tinggi. Dari 524 itu sekitar 300-nya adalah kota dan kabupaten besar dan setiap kabupaten kotannya tidak butuh biaya seratus sampai dua ratus milyar saja itu sudah berapa? Menurut noorsy, itu bisa lebih. Nilai 3 trilyun menurutnya, itu terlampau sedikit. Saya duga dua kali lipat atau paling tidak 5 trilyun, ujar noorsy.

Ongkos yang mahal itu tentunya akan dipakai kampanye capres, berupa pemsangan spanduk, baliho, brosur, stiker, bagi-bagi sembako, dan sampai yang termahal yakni iklan di media TV, semua dilakukan untuk mendapatkan simpati masyarakat. Biaya kampanye capres yang bejibun mahalnya, tidak mungkin di tanggulangi sendiri. Sejumlah korporasi-pun ikut mendanai kampanye capres, baik korporasi dalam negeri maupun asing. Dalam hal ini, tidak ada makan siang gratis!!!, jadinya capres yang terpilih akan merasa hutang budi, dan mengembalikan sejumlah dana yang telah diberikan. Baik dalam bentuk proyek , maupun dalam pembuatan UU yang pro terhadap pemilik modal. Dan ujung-ujungnya yang menjadi Korban adalah rakyat Indonesia sendiri. Maka omong kosong-lah yang namanya kemerdekaan. Itulah boroknya demokrasi rusak yang mahal.

Islam Solusi !

Mahalnya sistem demokrasi yang menjadikan politisi mental korupsi. Korupsi bukanlah hal kasuistik, melainkan hal sistemik yang bersumber dari sistem yang rusak. Karena sistem demokrasi yang rusak dari sananya, dan mendatangkan kerusakan ke segala lini, maka itu harus diganti secara totalitas dengan kata lain, Revolusi!!!

Revolusi dalam hal ini, yakni penerapan Islam secara totalitas dalam Negara Khilafah. Karena khilafah merupakan satu-satunya sistem pemerintahan yang bersumber dari Allah SWT Sang Maha Sempurna. Negara khilafah, pun memiliki sistem pemilihan pemimpin yang sangat beda dengan Demokrasi yang menghabiskan banyak dana, dan menyengsarakan rakyat. 

Pemilihan khalifah(pemimpin) dalam Negara khilafah tidak membutuhkan biaya yang banyak. Mengutip pernyataan Ust. Rokhmat S Labib, mengenai calon khalifah tidak membutuhkan biaya besar seperti presiden (tanpa mengurangi makna, pernyataan telah diedit oleh penulis) :
Pertama Khilafah tidak memiliki masa periode. Sehingga tidak ada pemilihan khalifah setiap lima tahun atau empat tahun sekali. Setelah Khalifah diangkat tidak aka nada pergantun, kecuali karena alasan syar’I yang mengharuskan untuk diganti. Karenanya, tidak ada ceritanya khalifah yang terpilih sibuk mengumpulkan dana untuk modal pada pemilu periode berikutnya. Juga tidak ada orang yang gencar berkampanye agar dipilih menjadi khalifah dari tahun pertama setelah pemilu hingga tahun pemilu berikutnya.

Kedua, masa kosongnya khilafah sangat sempit. Yakni, hanya tiga hari dua malam setelah khalifah sebelumnya meninggal atau diberhentikan. Maka, sekalipun para calon khalifah ini diperbolehkan kampanye, namun karena sempitnya waktu, jadi tidak akan menghabiskan dana yang besar seperti capres. Disamping itu waktu yang amat sempit itu juga tidak akan membuat kampanye efektif. Maka kampanye tidak akan menjadi andalan untuk dapat terpilih. Khalifah yang terpilih adalah tokoh yang sebelumnya sudah dikenal luas dan berkiprah di tengah-tengah umat.

Ketiga, Khalifah diangkat adalah untuk menjalankan hukum-hukum syariat Isalam secara menyeluruh, totalitas. Dan itu sungguh merupakan pahala yang amat besar, yang didaptkan seorang khalifah karena melaksanakan hukum islam secara menyeluruh untuk kemaslahatan umat islam, dan meninggikan Islam dihadapan bangsa, dan agama lain.

Berebeda halnya dengan demokrasi, sistem yang menjauhkan masyarakat dari Islam. Motivasi seorang pemimpin di dalam Negara demokrasi hanyalah aspek materi, untuk mengenyangkan perut para kapitalis. Dan ujungnya rakyatlah yang buntung.

 Kesempurnaan Islam menggugurkan sistem lain yang tak sempurna, dan tak jelas arahnya baik itu demokrasi maupun sistem kufur lainnya. Jika Islam di terapkan secara totalitas tentunya akan mendatangkan berbagai kemaslahatan kepada seluruh umat, baik muslim maupun non muslim. sudah saatnya bergegas, memandang islam sebagi satu-satunya solusi atas permasalahan negeri ini.[]

“YAKINLAH PEMILU TAK AKAN MENYELAMATKAN HIDUPMU”

(Tulisan ini di publish di Ink Shariah Majalah Mahasiswa, 26 Februari 2014)

AMERICAN SHUT DOWN



“Lintasan kehidupan menghantarkan pada pergantian setiap kekuasaan. Bagai air yang mengalir, mendominasi kah ia terjun ke comberan pekat, atau berbelok ke saluran yang bersih nan jernih. Dalam pahit manisnya kehidupan pasti ada dalang. Dalam kerusakan akan datang perbaikan, tetapi tak sedikit Harmoni yang menghampiri pun ada yang mengakhiri. Seharusnya kita bisa menilai kehidupan untuk memulai membuat setting-an perjalanan”

 Tak dipungkiri lagi, secara jelas mileinium ke tiga saat ini sedang berada dalam lingkaran keterjangkitan Kapitalisme. Ideologi yang kental terlihat pada karakteristik Ekonomi, dan Sosial politiknya. Amerika Serikat, digodok sebagai Kampiun, Negara yang menerapkan dan mempromosikan Ideologi ini. Itu tergambar secara jelas lewat aktivitas Ekonomi, dan Sosial Politinya maupun yang lainnya. 

Tahun 1944, menjadi tahun gembira sekaligus kado bahagia Amerika Serikat, dan menjadi tahun tersuram sekaligus ancaman bagi negeri-negeri Muslim. Tahun tersebut adalah tahun dilaksanakannya pertemuan Bretton Woods  dimana Amerika Sebagai pemenang perang dunia II mengumpulkan 730 delegasi dari 44 negara di seluruh dunia untuk merumuskan sistem moneter global yang baru atau dengan kata lain merumuskan strategi penjajahan yang baru. Dengan hasil dari pertemuan tersebut, melepaskan patokan mata uang dunia terhadap logam emas (gold standard) dan beralih mematok uang dunia terhadap dollar Amerika Serikat. Menjadi langkah awal Amerika Serikat mejarah negara lain.

Amerika serikat dengan Ideologi Kapitalismenya mempunyai pengaruh besar atas negara yang baru merdeka maupun negara yang sudah lama merdeka. Dalam langkah ekonomi, Ini tampak dengan adanya sejumlah perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia. Begitupun dengan politik, sosial dan tren gaya hidup (life style), Amerika serikat mejadi garis bagi Negara lain yang terkecoh lewat teater busuknya, atau dapat dikatakan Amerika Serikat bagaikan selebriti yang memerankan segala sandiwara yang mengecoh penontonnya.   Pelak ini menggambarkan Amerika Serikat sebagai negara ‘Adi daya’ yang setiap langkahnya ada dan bergentayangan di tiap negara.

Amerika Serikat dan Kapitalisme, Senjata Makan Tuan

Kapitalisme merupakan Ideologi berlandaskan Sekularisme yang menghapuskan aturan Agama dalam mengurus dunia. Ideologi inilah yang menjadi Sistem dan pandangan hidup Amerika Serikat. Tertera dalam aktivatas yang dilakukan masyarakatnya yang mengadopsi Ideologi ini secara utuh, bagaimana pergaulan bebas yang menjadi ‘santapan’ mereka berhari-hari itu sudah lumrah. Amerika Serikat dengan denganIdeologi kapitalismenya secara sosial memberikan kebebaan sepenuhnya dan semaunya kepada masyarakatnya.

Kepeningan kehidupan di Negara Abang Sam tersebut, semakin menjadi-jadi. Demikian karena persahabatan Kapitalisme dan Demokrasi. Dimana demokrasi memiliki butir, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan beragama. Yang ikut andil dalam konstruksi Amerika Serikat. Tentunya ini menjadi elok bagi mereka pemuja kesenangan dunia yang menghabiskan kehidupannya dalam Kesesatan Kapitalisme dan Demokrasi.

Karena berlandaskan kebebasan, maka masyarakat berbuat semaunya. Walau pun di Negara Indian ini memiliki aturan, namun tetap saja aturan itu tidak memiliki guna. Sebaliknya menjadi rancu ketika Pemerintah Amerika Serikat mempublish dan menerapkan aturan di tengah masyarakatnya, demikian kembali ke poin awal landasan negara ini adalah kebebasan, maka kembali kita pertanyakan perihal kebebasan tetapi masih ada aturan. Kebebasan yag menjadi pandangan hidup penuh Amerika Serikat itu dilaksanakan dengan sangat ‘rapih’ oleh penganutnya sebebas-bebasnya tanpa mempedulikan aturan yang berlaku, karena dengan dalih kebebasan yang penuh.

Sebaliknya Kapitalisme dengan kebebasan penuhnya ini, menjadi anak panah yang kembali ke Tuannya sendiri. Dari kebebasan penuh ini menghasilkan berbagai kejahatan dan tindakan kriminal di Amerika Serikat. Salah satu situs jejaring sosial dunia, menobatkan Amerika Serikat sebagai negara dengan tingkat kejahatan yang tertinggi di seluruh dunia. Dengan angka kriminalistas tertinggi yakni pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan. Adapun kota di Amerika serikat yang tingkat kriminalitasnya paling tinggi yakni :
1.       Memphis, Tenn. Total kejahatan terjadi 1,750.0 dengan jumlah populasi masyarakat kota 657.436.
2.       St. Louis, Mo. Total kejahatan terjadi, 1,776.5 dengan jumlah populasi masyarakat kota 318.667.
3.       Oakland, California. Total kejahatan terjadi 1,993,1 dengan jumlah populasi masyarakat kota 399.87.
4.       Detroit, Mich. Total kejahatan terjadi 2,122.6 dengan jumlah populasi masyarakat kota 707.096.
5.       Flint, Mich. Total kejahatan terjadi 2,729.5 dengan jumlah populasi masyarakat kota 101.632.
Demikian bangunan sosial masyarakat yang buram akibat Sistem Kapitalisme Demokrasi yang diterapkan Amerika Serikat. 

Perlahan  tapi pasti Amerika Serikat akan Mati



Permasalahan yang merantai negara ‘Adidaya’, akan terus melilit dan menukik pada masalah-masalah yang baru. Dampak dari Ideologi yang diterapkan Amerika Serikat, tidak hanya menjarah kehidupan sosial masyarakatnya. Yang ramai terngiang, Amerika Serikat merumahkan atau memensiunkan dini pegawai negara federal nya (Di Indonesia sederajat dengan PNS), sebanyak 800 Ribu Pegawai (Shut Down). Sementara jutaan pegawai diminta bekerja tanpa di bayar. seperti inikah negara adidaya? Tak pelak permasalahan ekonomi yang dialami Amerika Serikat adalah dampak dari penerapan Ekonomi Kapitaslisme.
Ditutupnya layanan pemerintahan tersebut dikarenakan jumlah utang Amerika Serikat yang disetujui oleh pemerintah federal jatuh tempo pada 17 Oktober 2013 yang mencapai lebih dari plafon utangnya yaitu US$ 16,7 Triliun. Krisis dan pertanda Shutdown-nya Amerika Serikat sudah terbayang oleh masyarakat di awal tahun 2013 dengan naiknya harga pajak yang sangat tinggi, akibat pemberlakuan kenaikan pajak secara otomatis di tahun 2013.

Plafon utang yang saat ini masih menunggu kesepakatan kongres, yakni senat yang di dominasi oleh partai demokrat, dan DPR yang bergaris besar di isi partai republikan masih menjadi pembicaraan mengawang, dan belum menemukan solusi. Di sisi lain pembicaraan yang terkesan membual, dan rencana kebijakan pencitraan oleh dua kubu tersebut masih belum menemukan titik temu antara kedua partai. Masing-masing mengegokan argumen sendiri, sementara rakyatnya mati kelaparan menunggu bualan-bualan tersebut.

 Krisis yang melanda Amerika Serikat di tahun 2013 merupakan benturan dari kebijakan pemerintah di tahun sebelumnya. Diantaranya kebijakan Amerika serikat, meminjam sejumlah uang ke perusahaa swasta untuk mendanai pengiriman tentara Amerika Serikat, melakukan Invasi ke negeri-negeri muslim. Selain itu krisis juga terlihat dengan bangkrutnya sejumlah perusahaan-perusahaan swasta di Amerika Serikat, yang menjadi penopang sebgaian APBN. Berikut perusahaan besar Amerika Serikat yang bangkrut :
1.       Lehman Brothera Holdings, lembaga keuangan, bangkrut pada september 2008, nilai aset US$ 691 miliar
2.       Washington Mutual, bank, bangkrut pada september 2008, dengan nilai aset US$ 327,9 miliar
3.       WorldCom, penyedia telepon jarak jauh, kolaps pada juli 2002, dengan nilai aset US$ 103,9 miliar
4.       General Motors, perusahaan otomotif, bangkrut pada juni 2009, dengan aset mencapai US$ 91 miliar
5.       CIT Group, penyedia kredit usaha menengah, bangkrut pada november 2009 dengan nilai aset US$ 80,4 miliar
6.       Enron Group, pabrik tubin dan mesin, bangkrut pada tahun 2001 dengan nilai aset US$ 6,5 miliar
7.       Consesco, lembaga keuangan, bangkrut pada 2002 dengan nilai aset US$ 61,4 miliar
8.       Chrysler, pabrik mobil, bangkrut pada april 2009 dengan nilai aset US$ 39,3 miliar
9.       Thonrnburg Mortage, perusahaan pembiayaan dan perdagangan, bangkrut pada mei 2009, dengan nilai aset US$ 36,5 miliar
1.   Pacific Gas & Electric Co, perusahaan minyak dan gas, bangkrut pada tahun 2011 dengan nilai aset US$ 36,25 miliar

Penyebab bangkrutnya perusahaan terbesar di Amerika, disebabkan oleh pola sistemik Ekonomi kapitalisme, dimana kredit perusahaan ke sejumlah bank tidak mampu ditanggulangi oleh perusahaan peminjam. Diperparah pula dengan sistem bunga (riba) yang menjadi tulang punggung ekonomi kapitalisme dalam menjalankan roda ekonomi. Dimana perusahaan lebih banyak membayar bunga, ketimbang pinjaman dasarnya.

Kapitalisme yang menjadi pijakan ekonomi Amerika serikat, kembali menjadi umpan balik. Kehancurannya datang bagi yang menerapkannya. Ekonomi kapitalisme meniscayakan Seorang Individu itu bisa lebih kaya dari negara. Membolehkan seseorang untuk mengeruk kekayaan semaunya, tanpa memikirkan standar halal atau haram. Maka seperti itulah Amerika Serikat negara ‘adi daya’ yang menunggu kehancurannya akibat penerapan Sistem Kapitalisme. Maka terlihat jelaslah kebusukan Sistem Kapitalisme yang menjadi tatanan kehidupan Amerika Serikat.

Revolusi Islam, Pasti!!

Krisis dan Shut down-nya Amerika Serikat, merupakan salah satu pertanda pertolongan Allah SWT. Sebagai hasil perjuangan membongkar kebusukan Sistem Kapitalisme. Sekiranya telah tergambar bagaimana Amerika Serikat itu teropoh-opoh dengan Ideologinya sendiri dalam mengatur tata kehidupan negaranya.
Pada pembahasan di Edisi 1 sebelumya, telah saya gambarkan bagaimana konstruksi sistem ekonomi islam yang menyejahterahkan. Sebagaimana dimasa Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 m), hanya dalam 10 tahun masa pemerintahannya, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negeri . Pada masa beliau, ketika di yaman, Muadz bin Janbal sampai kesulitan menemukan seorang miskin yang layak untuk di beri zakat (Abu  Ubaid, Al amwal, hlm 596).
 Tinggal bagaimana kita berjuang untuk menerapkan Sistem Islam secara menyeluruh. Seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pertandan Nasrullah di depan mata, meraka yang mencabik menjadi semakin sakit. Maka mulailah menghitung mundur dari sekarang, dan kobarkan semangat perjuangan menuju Revolusi Islam. []

(Tulisan ini di publish di Ink Shariah Majalah Mahasiswa, 29 Oktober 2013)