Rabu, 10 Desember 2014

Mahasiswa Dalam Panggung Politik : Demokrasi Arah Perjuangan Utopis



Organisasi mahasiswa begitu menjamur di Indonesia. Dalam klasifikasinya, Organisasi Mahasiswa berunut dalam dua lingkup. Pertama, organisasi mahasiswa intra kampus merupakan organisasi mahasiswa yang umumnya mendapat legetimasi dari kampus untuk melaksanakan aktivitasnya. Aktivitas organisasi mahasiswa intra ini umumnya terkungkung pada kegiatan yang sifatnya menyalurkan hobi mahasiswa. Kedua, organisasi mahasiswa ekstra kampus. Umumnya organisasi ekstar kampus ia tidak terikat dengan kampus tempat ia beraktivitas, dan umumnya berhaluan pada gerakan moral, pendidikan, dan politik.

Gerakan politik mahasiswa yang bergerak atas dasar ideologinya masing-masing. Dapat kita sorot dari masing-masing zamannya. Pada awal gerakannya kata mahasiswa belum popular sehingga yang melekat tajam dalam adalah kata pemuda. Fase pra kemerdekaan pada tahun 1905 ditandai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam yang kemudian hari bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam. Mulanya sarekat islam mengawali geraknya di pesantren yang merupakan basis dimana pemuda belajar islam. Berdirinya SI sebagai dasar semangat perjuangan islam untuk melawan kolonialisme dan imperialism di tanah nusantara. 

Tahun 1908 berdiri pula organisasi mahasiswa Budi Utomo, yang merupakan hasil rundingan dari para pelajar-mahasiswa nusantara dari lembaga Stovia. Maksud didirikannya BU untuk menyelaraskan organisasi tersebut dengan bangsa (nusantara) untuk sebuah kemajuan di bidang pendidikan, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industry, serta kebudayaan (Wikipedia.org). atau dengan kata lain organisasi ini berhimpun pada gerakan moral, tetapi tidak pula ia lepas dari pengaruh politik.

Juga tidak samar terdengung yang terjadi di tahun 1928. Demikian karena tahun ini merupakan tahun beberapa organisasi mahasiswa yang suaranya dituangkan dalam Sumpah Pemuda. Angkatan 28 atau Sumpah pemuda, berdiri atas beberapa gagasan jong (beberapa orang pemuda), yakni jong java, jong celebes, jong Madura, jong tionghoa, jong islamiedin, dll. Pemuda angkatan 28 ini, bergerak atas dasar kesatuan nasionalisme yang bertujuan melawan penjajah dan memerdekakan Indonesia.

Ada pula angkatan kemerdekaan atau angkatan 1945. Tidak terlalu jauh membahas angkatan ini, masuk pada tahun 1955. Tahun 55, adalah tahun politik beragam warna. Beragam partai yang mewarnai percaturan politik pada tahun itu. Partai politik pada saat itu, tidak jarang menggaet Gerakan mahasiswa atau mendirikan gerakan mahasiswa sebagai underbow partai mereka untuk meraih kekuasaan.

Beberapa organisasi mahasiswa yang menjadi underbow partai politik saat itu, seperti Perhimpunan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (PMKRI) dengan Partai Katholik, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dll. 

Mahasiswa, Alat Partai Politik dan Keslahan Perjuangan 

Tahun 1955 sebagaimana yang telah dibahas, beberapa Gerakan Mahasiswa menjadi underbow dari partai politik. Pemilu pada saat itu, bisa dikatakan PKI tampil sebagai partai yang paling kuat. Sehingga menjadikan Concentrasi Gerakan Mahasiswa Nasional (CGMI) sebagai afiliasinya berbangga diri atas kemenangan PKI. Kebanggaan yang dirasakan CGMI membuatnya menjalankan konfrontasi politik dengan beberapa organisasi mahasiswa lainnya. Jauh kendali CGMI berusaha memengaruhi beberapa organisasi mahasiswa salah, satunya PPMI dan GMNI, bentuk pengaruh CGMI terhadap dua organisasi tersebut ditandai dengan adanya sejumlah kader maupun anggota  CGMI yang menduduki jabatan berpengaruh di PPMI dan GMNI.
Kemenangan PKI dan bergrilyanya CGMI ke tubuh beberapa oganisasi mahasiswa, membuat ‘urat saraf’ Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) meninggi, melihat PKI dan underbouw-nya menguasai rute perpolitikan Indonesia pada saat itu. Maka pada 25 Oktober 1966 melalui kesepakatan beberapa organisasi mahasiswa yang berhasil di akomodir oleh Mayjen dr. Syarief Thayeb yang merupakan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang didalamnya terdapat sejumlah organisasi mahasiswa, yakni HMI, PMII, PMKRI, GMKI, Sekertaris Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Terbentuknya KAMI sebagai dasar perlawanan mahasiswa terhadap PKI agar lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Perjuangan Mahasiswa 65/66 juga melibatkan dirinya dalam perjuangan mendirikan orde baru. Selang berjalannya perjuangan mahasiswa yang dikenal angkatan ’66 berhasil mendirikan orde baru menjadikan sebagian tokoh mahasiswa berada dalam lingkaran orde baru, diantaranya Cosmas Batubara (Eks. Ketua Presidium KAMI Pusat, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi yang ketiganya dari PMKRI, Akbar Tanjung (Aktivis HMI), dll. Sebagai hadiah atas perjuangannya menumpas PKI.

Tahun 1974, 1977-1978, 1990, dan 1998 merupakan rangkuman perjuangan mahasiswa pra orde baru. Tergambar perjuangan yang penuh semangat dengan pengorbanan. Tetapi yang terlihat perjuangan mahasiswa pada saat mengalami jatuh bangun, dan yang paling krusial pembajakan perjuangan mahasiswa setelah tiupan reformasi yakni pengarahan Demokrasi Kearah yang makin liberal.

Kembali jadi Alat Politik Praktis di Era Reformasi

Era reformasi yang memberi angin segar bagi mahasiswa pun tidak menjadikan gerak mahasiswa semakin tajam dan terarah. Malah menjadikan mahasiswa sebagai alat politik praktis partai. Terkhusus di tahun 2014, yang merupakan tahun PEMILU yakni pemilihan legislatif tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Pra kampanye partai politik, sebenarnya sudah jauh hari kampanye dilaku dengan memanfaatkan kekuatan organisasi mahasiswa. 

Di Makassar sendiri, mulai pertengahan februari sampai akhir maret banyak kegiatan Organisasi Mahasiswa yang ujungnya mengarah mengkampanyekan sosok Celeg atau Presiden untuk dipilih. Tak jarang pula acara tersebut dibungkus agar sejauh mungkin terhindar dari unsur kampanye pada sudut promosinya, tetapi ketika sampai pada terlaksananya acara, terlihat sudah acara yang mengarah pada penyudutan tokoh parpol untuk dipilih.

Yang menjadi urgensitas membaca gerak mahasiswa yang terkontaminasi politik praktis. Organisasi mahasiswa, tidak memahami pemikiran (fiqrah) dan motode (Thariqah) Partai Politik yang ia sebagai underbuow-nya. Yang Nampak, hanya sebuah slogan tak bermutu berakhir gratis, gratis, dan gratis. Lebih parah lagi, organisasi mahasiswa yang hanya tinggal disuap fulus, ia rela menggadaikan idelaismenya.
Organisasi Mahasiswan tidak lagi jadi pengayom mengedukasi masyarakat. Malah menjadi aktor, biang kerusakan negeri. Menjadi underbouw partai politik atau afiliasinya, tidaklah masalah tetapi kritislah berfikir, menganalisa apakah partai politik tersebut sejalan dengan Islam.

Kegagalan Partai Politik & Demokrasi

Syekhul Hujjah Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah dalam kitabnya At-takatul Hizbi/Pembentukan Partai Politik, memaparkan kegagalan partai politik : (1) Gerakan-gerakan tersebut berdiri atas Fikrah (pemikiran) yang masih umum tanpa batasan yang jelas, sehingga muncul kekaburan atau pembiasan. Lebih dari itu, fikrah tersebut tidak cemerlang, tidak jernih, dan tidak murni. (2) Gerakan-gerakan tersebut tidak mengetahui thariqah (metode) bagi penerapan fikrahnya. Bahkan fikrahnya diterapkan dengan cara-cara yang menunjukkan ketidaksiapan gerakan tersebut dan penuh kesimpangsiuran. Lebih dari itu, thariqah gerakan-gerakan tersebut telah diliputi kekaburan dan ketidak jelasan. (3) Gerakan-gerakan tersebut bertumpu kepada orang-orang yang belum sepenuhnya mempunyai kesadaran yang benar. Mereka pun belum mempunyai niat yang benar. Bahkan mereka hanyalah orang-orang yang berbekal keinginan dan semangat belaka. (4) Orang-orang yang menjelankan tugas gerakan-gerakan tersebut tidak mempunyai ikatan yang benar. Ikatan yang ada hanya struktur organisasi itu sendiri, disertai dengan sejumlah deskripsi mengenai tugas-tugas organisasi, dan sejumlah slogan-slogan organisasi.

Pernyatan Syekh Taqiyuddin ASn-Nabhani rahimahullah, menggambarkan jelas keadaan partai politik saat ini. Terkhusus di Indonesia, tergambar apa yang Syekh Taqiyuddin maksud. Sangat banyak di Indonesia partai politik yang berdiri tidak memiliki pemikiran dan metode yang jelas. Jika kita lihat partai politik saat ini sungguh mengutamakan kemaslahatan partai dan anggota partainya di banding ke maslahatan umat. Juga ada partai politik yang mengaku partai islam , tetapi jika gerak-geriknya di teropong sungguh jauh dari Islam. Mereka memasukan sejumlah orang non muslim untuk bergabung ke partainya.

Semuanya merupakan buah dari demokrasi, jalan perjuangan demokrasi merupakan jalan yang rusak dan tak akan membawa umat islam pada kemenangan. Umat muslim baik yang terjun di parlemen maupun organisasi mahasiswa yang mendukungnya seharusnya kritis melihat. Bahwa perjuangan demokrasi tidak akan pernah mendapat ridho dari Allah SWT. Sungguh karena demokrasi adalah sistem yang tidak berasal dari islam dan sangat bertentangan dengan islam. Wallahu a’lam []

(Tulisan ini di Publish di Ink Shariah Majalah Mahasiswa, 01 April 2014)

0 komentar:

Posting Komentar